Perjuangan butuh akal sehat

Juli 11, 2008 oleh andreyshevchenko

duka kembali meliputi keluarga mahasiswa, setelah beberapa tahun lalu, sebagai konsekuensi dari “perjuangan” untuk melengserkan sang raja perkasa di era orde baru melalui proses reformasi, mahsiswa kehilangan teman terbaik mereka, beberapa orang pahlawan reformasi gugur dalam upaya memperjuangkan keadilan bagi rakyat. kini mereka kembali kehilangan teman mereka. ironisnya kali ini walau aksi yang terjadi bisa dibilang hampir sama namun substansi permasalahannya tidaklah sama. proses perjuangan yang terjadi saat berlangsungnya reformasi oleh mahasiswa dilakukan untuk melawan arogansi penguasa dan sistem yang dibangun saat itu, sistem yang dirancang untuk loyal terhadap kekuasaan (tentu saja dengan imbalan yang menguntungkan bagi mereka, yaitu mereka ‘dijinkan’ untuk mencari “penghasilan lain selain gaji” dari hal-hal yang ada disekitar mereka). ya, semua memang berjalan sesuai rencana sang penguasa, kekuasaan berlangsung lama dan nyaris tanpa ada gangguan sama sekali dari rakyat. tangan besi sang pemimpin telah membuat keder mereka yang berani menyampaikan kritik atau pendapat yang tidak sejalan dengan penguasa, ditambah lagi kaki tangan penguasa yang total membela ‘raja’nya telah membuat ruang gerak para penentang menjadi tidak ada sama sekali. dan begitulah, kekuasaan yang ‘tangguh’ itupun berlangsung lama, setiap hari rakyat dibawah hanya bisa melihat tingkah polah para penguasa dan kaki tangannya yang pongah tanpa bisa (berani) mengatakan sesuatu, bahkan untuk berkata bahwa mereka lapar sekalipun mereka tidak berani, seluruh media pemberitaan yang ada ada berada dibawah kontrol mereka, bila ada media yang berani menyampaikan hal buruk tentang penguasa ataupun kondisi masyarakat yang lapar, bisa dipastikan akan bernasib ‘buruk’ bagi media itu sendiri, satu-satunya stasiun televisi yang ada saat itu adalah milik penguasa, sudah bisa ditebak berita yang disampaikan adalah ‘good news’, tak ada satupun kabar buruk di negeri ini. sehari-hari berita yang tampil adalah makmurnya negeri, ‘jujur’nya penguasa dan bahagianya rakyat, negeri impian memang, kekurangan dan kerapuhan negeri selalu disamarkan, rapuhnya ekonomi negeri, banyaknya utang negara, korupsi, kolusi dan nepotisme selalu ditutup rapi dan dibingkai sedemikian rupa, siapapun yang berani mengungkap borok tersebut akan dicap sebagai pengacau, anti kemapanan bahkan subversif yang tentu saja akan menghadapi hukuman bahkan tanpa diadili sekalipun, bagaikan diceburkan kedalam sumur yang tanpa dasar, hukuman yang patut bagi ‘pengacau’.
namun waktu berjalan hari berganti, kekuatan sang penguasa pun sedikit demi mulai memudar, bahkan sesuatu yang tidak terduga pun terjadi, kondisi perekonomian dunia yang sedang mengalami krisis merambah ke daratan asia tenggara tak terkecuali indonesia. terpaan badai krisis ekonomi dan moneter yang menghembus seluruh wilayah asia juga menyapu asia tenggara dan indonesia, layaknya sebuah rumah yang terkena badai, maka seluruh isi rumah pun menjadi porak poranda, hancur seluruh tatanan yang telah dengan susah payah sebelumnya. malaysia, singapura, thailand dan negara-negara lain mulai berusaha bangkit dengan menata kembali perekonomian mereka, namun tidak demikian dengan indonesia, kerapuhan fundamental ekonomi indonesia tidak mampu menahan terpaan badai krisis yang menghempas, negeri kita runtuh, krisis yang menerpa menjadi berkepanjangan dan berlarut-larut. rakyat yang menderita semakin menderita, bahkan penderitaan yang dialami telah sampai pada puncaknya. kesabaran rakyat telah habis, rasa lapar telah mengalahkan ketakutan pada kekuatan dan penjara, hanya satu tuntutan mereka sang raja harus turun, kekuasaan yang arogan dan hanya mementingkan golongan sendiri dengan mengabaikan rakyat harus diahiri, dan begitulah, kekuasaanpun berakhir dengan turunnya sang raja seumur hidup, meskipun harus ditebus dengan darah dan nyawa para mahasiswa, merekapun gugur sebagai pahlawan reformasi.
namun saat ini, mahsiswa kembali turun kejalan. dengan maksud dan tujuan yang mungkin bisa dikatakan ‘baik’, menolak kenaikan BBM yang hanya akan makin menyengsarakan rakyat, sebuah tujuan mulia. akan tetapi yang harus diingat adalah persoalan kenaikan BBM itu sendiri adalah merupakan sebuah keniscayaan bagi pemerintah, sebuah pilihan sulit yang memang harus dipilih oleh pemerintah, sebuah pengorbanan besar untuk meraih sebuah tujuan yang jauh lebih besar lagi yaitu kecukupan anggaran negara karena menghindari beban subsidi yang membengkak. tidak adil rasanya bila kita hanya memandang suatu permasalahan hanya dari satu sisi saja dengan mengabaikan hal-hal lain. tujuan mulia dari teman-teman mahasiswa sesungguhnya merupakan potensi bagi negeri ini untuk menjadi penyeimbang bagi berjalannya pemerintahan yang bersih dan memihak pada rakyat, akan tetapi potensi itu justru akan menjadi bumerang bagi kita apabila dikeluarkan pada saat yang tidak tepat, artinya dalam melakukan aksi keprihatinan ataupun aksi-aksi lain mahasiswa hendaknya terlebih dahulu melihat dan mempertimbangkan suatu permasalahan dari berbagai hal dan berbagai dampak yang akan diterima oleh negara dan rakyat, mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas lagi tentunya merupakan suatu pikiran yang bijaksana dan arif, agar tidak tidak terjadi buang-buang energi dan korban yang sia-sia.

PENEGAKAN KEADILAN

Juni 18, 2008 oleh andreyshevchenko

keadilan, sangat mungkin adalah barang langka dinegeri ini, bukan hanya bahan bakar minyak(BBM) atau sembako yang akhir-akhir ini menjadi mahal dan sulit dicari, tetapi keadilan akan jauh lebih sulit ditemukan apabila kita mencarinya. bagaimana tidak, di negeri yang berjuluk jamrud khatulistiwa ini tidak terbersit sedikitpun kemilau kemakmuran dari sebagian besar penghuninya, dinegeri yang subur dan kaya sumber daya alam ini yang nampak hanyalah kegersangan dan kehampaan yang meliputi kehidupan warganya, bahkan untuk mencari sesuap nasi sekalipun sebagian besar warga di negeri ini harus jungkir balik bermandi keringat dengan mengeluarkan segenap tenaga dan kemampuan yang dimiliki yang terkadang apa yang mereka peroleh jauh dari harapan dan kebutuhan mereka, sementara di lain sisi sebagian kecil penghuni negeri ini dengan mudah meraih semua keinginan mereka tak satupaun, tak satupun dari apa yang menjadi kemauan dan kehendaknya tidak terpenuhi.

ironis memang, tapi itulah realitanya. ketimpangan ekonomi dan sosial yang telah berlangsung lama di negeri tercinta ini hingga detik ini masih saja berlangsung dan tak nampak tanda-tanda akan berakhirnya tragedi ini, bahkan upaya untuk mengahirinya pun amat sangat kecil hingga terkesan tidak ada sama sekali. terungkapnya skandal “dagang hukum” di kejaksaan agung beberapa waktu yang lalu yang melibatkan hampir seluruh pejabat teras di kejaksaan agung semakin menciutkan nyali kita untuk tetap menginginkan penegakan hukum dan keadilan di negeri ini. ya, pupus sudah harapan kita akan terwujudnya keadilan di nusantara ini, rasanya segenap asa telah sirna ketika kita tahu akan hal yang memalukan dan tidak sepatutnya terjadi itu dilakukan oleh para penegak hukum kita. masihkah ada harapan untuk tegaknya suatu keadilan? mungkin masih, pemerintah adalah harapan kita satu-satunya, selain karena disitulah akar permasalahan yang sesungguhnya juga pemerintahlah yang memiliki tangan yang bisa bekerja untuk itu, memang pemerintah tidak akan berhasil tanpa adanya partisipasi masyarakat, tetapi yang harus diingat selalu adalah bahwa pemerintah merupakan faktor yang paling dominan, kesediaan untuk berubah dan kemauan untuk merubah adalah kunci terpenting bagi suatu upaya memperbaiki diri guna mencapai kemajuan yang diharapkan bersama. wallahu ‘a’lam.

KHILAFAH

Juni 16, 2008 oleh andreyshevchenko

setelah proses reformasi bergulir di negeri ini, kondisi sosial dan ekonomi terasa kian aneh dan agak sulit ditebak, tak dapat dipungkiri memang bahwa kondisi ekonomi kita tidak akan terlepas dari keadaan ekonomi global yang memang trend nya lagi ’suram’, tetapi harus diakui pula bahwa pengaruh faktor internal negeri kita juga sangat kuat mewarnai kelamnya kodisi ekonomi negeri kita. kondisi politik dan keamanan yang memang kurang ‘mendukung’ terhadap jalannya proses pembangunan nasional, ditambah lagi dengan sistem pemerintahan kita yang boleh dikata masih ‘mencari bentuk’ yang pas untuk bisa berjalan sesuai kehendak rakyat dan bisa diterima oleh seluruh pihak, adalah faktor-faktor utama yang mempengaruhi proses transformasi negeri kita yang entah sampai kapan akan terus belangsung dan tidak satupun orang bisa mengambil kesimpulan tentang bagaimana bentuk negeri ini nantinya kelak.akan tetapi dibalik itu semua tentunyakita berharap bahwa perubahan yang berlangsung akan berjalan dengan baik dan hasil perubahan itu sendiri akan memuaskan seluruh penghuni nusantara ini, amin.